Nasional

Jurnalis Tempo yang Mendapat Teror Kepala Babi Raih Udin Award 2025

Baswara Times, Jakarta – Jurnalis Tempo yang pada 19 Maret 2025 menerima teror berupa paket berisi kepala babi, Francisca Christy Rosana atau yang lebih dikenal dengan nama Cica meraih Udin Award 2025 di peringatan Hari Ulang Tahun ke-31 Aliansi Jurnalis Independen, Jumat, 8 Agustus 2025.

Acara berlangsung di Gedung RRI, Ruang Yusuf Ronodipuro, Jakarta Pusat, pada Jumat, 8 Agustus 2025.

Mengutip Tempo, Udin Award merupakan penghargaan bagi jurnalis atau kelompok jurnalis, komunitas, atau lembaga media yang menjadi korban kekerasan dalam menjalankan tugas jurnalistik mereka secara profesional. Penghargaan ini bertujuan untuk mendorong kebebasan pers dan kebebasan berekspresi.

Udin adalah nama panggilan Fuad Muhammad Syafruddin, jurnalis Harian Bernas dari Yogyakarta, yang dibunuh pada 16 Agustus 1996 karena memberitakan kasus korupsi dan kolusi pejabat serta militer di kota itu.

Cica yang hadir secara daring mengaku sedih dan terharu atas penghargaan tersebut. Sebab, dia menilai adanya Udin Award merupakan tanda bahwa pers di Indonesia belum sepenuhnya merdeka dan masih akrab dengan pembungkaman.

“Teman-teman, penghargaan ini sebetulnya bukan untuk saya, tapi untuk kita yang masih berani dan paling tidak untuk jurnalis perempuan yang masih bertahan dengan kesulitannya di tengah situasi di mana tekanan media semakin kuat,” kata Cica.

Salah satu dewan juri menjelaskan, pertimbangan memilih Cica karena di tengah kuatnya militerisme yang mengancam kebebasan pers, Cica yang mengalami teror berupa pengiriman kepala babi hingga serangan digital, terus memberikan kesan bermakna.

“Bukan hanya soal daya tahan terhadap rangkaian teror yang masif, tapi mereka tak mundur sekali pun untuk menurunkan kualitas dan dedikasinya terhadap jurnalistik,” Herlambang Wiratraman.

Selain Cica, jurnalis lain atas nama Safwan Ashari Raharusun dari Tribun Network juga mendapatkan penghargaan serupa. Di Papua Barat Daya, wartawan Tribun Papua ini sempat dihadapkan dengan kompleksitas liputan tentang kasus kekerasan warga sipil hingga pernah dicari sejumlah aparat karena liputannya yang kritis mengangkat realita di wilayah itu. (Roy Dz)