Baswara Times, Madina – Selain PT Syarifah Alawiyyah Insyrah ternyata PT Grand Sava Nauli (GSN) turut menjadi korban dugaan manipulasi Alwi Batubara, pimpinan agen travel umrah Sultan Andalus Haramain yang tidak memberangkatkan 30-an jemaah meski telah melunasi seluruh biaya yang ditentukan. Sama seperti PT SAI, travel GSN juga mengalami kerugian lebih dari Rp500 juta karena uang pembayaran tiket jemaah mereka sebanyak 16 orang turut ditilap Alwi. Atas hal itu, manajemen harus mengganti biaya yang dikeluarkan jemaah sehingga tetap bisa bertolak ke Arab Saudi. “Kami sudah melapor ke polisi. Harapan kami duit itu kembali dan dia harus mengembalikan kerugian tiket total lebih dari Rp500 juta, gabungan dari tiket pertama yang hangus dan tiket kedua yang kami keluarkan. Kami juga meminta masyarakat jangan lagi percaya isu-isu yang tersebar, karena sadar atau tidak sadar itu sudah mencemarkan nama baik GSN,” kata Bagian Keuangan PT GSN Khodijah Nasution via sambungan telepon pada Kamis, 20 Agustus 2026. Khodijah memaparkan, persinggungan pihaknya dengan Alwi Batubara bermula dari kelangkaan tiket pesawat untuk keberangkatan 18 Agustus 2026. Di saat bersamaan, Alwi Batubara menawarkan ketersediaan tiket penerbangan seharga Rp15,5 juta per orang. Syaratnya, jemaah dia berjumlah 31 orang diizinkan menumpang manifes perizinan Siskopatuh milik GSN. Sebab, travel Sultan Andalus Haramain diduga beroperasi tanpa izin resmi dari Kementerian Haji dan Umrah. Khodijah menegaskan, pihaknya pun menyetujui hal tersebut dan kesepakatan itu murni bersifat transaksi jual-beli tiket penerbangan dan saling menolong administrasi keberangkatan, bukan kerja sama operasional travel. Namun, kesepakatan itu berakhir fatal karena Alwi Batubara menghilang tanpa jejak dan memutus komunikasi sesaat sebelum jadwal taklimat keberangkatan jemaah di Bandara Kualanamu, Deli Serdang. “Dia tidak ada izin travel. Sementara kami punya izin dari Kemenhaj. Awalnya ini saling menolong, tapi kenyataannya dia sudah menjatuhkan kami. Kami hanya meminta membeli tiket sama dia, tapi kami ikut jadi korban,” kata Khodijah . Menghadapi situasi krisis di bandara dan menolak menelantarkan jemaahnya, manajemen GSN mengambil langkah solutif. Mereka terpaksa melikuidasi dan menggadaikan sejumlah aset pribadi milik keluarga demi membeli tiket penerbangan baru secara mendadak. Tiket pengganti itu dibeli melalui maskapai Malaysia Airlines dengan rute Kualanamu-Malaysia-Madinah, memakan biaya tambahan yang jauh lebih besar. “Karena kami dari pihak GSN ini ingin menyelamatkan jemaah kami, bagaimanapun ada aset kami, itu kami pinjamkan. Ibaratnya jaminan aset dari rumah, asal dapatlah tiket baru. Tiket yang dibeli dari si Alwi ini sudah hangus. Kami beli tiket baru totalnya Rp272 juta, dan alhamdulillah 16 jemaah kami sudah terbang pada tanggal 19 Agustus jam 3 pagi,” papar Khodijah. Lebih lanjut, Khodijah menyayangkan adanya opini publik dan narasi di media sosial yang mengaitkan insiden penelantaran puluhan jemaah asal Madina dengan perusahaan GSN. Dia mengatakan jemaah yang terlantar murni merupakan jemaah dari agen travel Sultan Andalus Haramain. Sementara seluruh jemaah GSN yang berasal dari Medan telah diberangkatkan ke Tanah Suci berkat dana talangan internal perusahaan. (Roy Dz) Navigasi pos Jemaah Umrah Terlantar Bertolak ke Bumi Gordang Sambilan