Dugaan Malapraktik di RSU Permata: Direktur Bungkam, dr. Syafii Blokir WA Media
Baswara Times, Panyabungan – Direktur RSU Permata Madina Panyabungan dr. Evandion masih bungkam terkait dugaan malapraktik yang menimpa RSH yang berujung pada pengamputasian tangan kiri yang bersangkutan.
dr. Evan yang dikonfirmasi sejak Kamis, 6 November 2025, sampai berita ini ditayangkan tetap memilih tak memberikan jawaban. Ini merupakan konfirmasi kedua yang diabaikan pihak rumah sakit.
Tak hanya itu, dr. Syafii Siregar, pemilik RSU Permata Madina, juga memblokir nomor media ini. Hal itu dibuktikan dengan pesan WhatsApp yang hanya menunjukkan ceklis satu dan hilangnya foto profile yang bersangkutan. Padahal, sebelumnya pesan konfirmasi pertama terkirim ditandai dengan ceklis dua. Foto dr. Syafii bersama istrinya pun masih tampak.
Dugaan malapraktik ini menimpa RSH. Pasien remaja perempuan itu awalnya didiagnosa mengalami masalah pada lambungnya. Dia pun kemudian harus melalui perawatan di RSU Permata Madina Panyabungan. Tenaga kesehatan yang merawat RSH pun memasang infus di tangan kirinya.
Ternyata, tangan kiri pasien mengalami pembengkakan dan pemasangan infus dipindah ke tangan kanan. Keluarga pasien akhirnya memutuskan membawa RSH pulang ke rumah. Namun, pembengkakan di tangan kiri menjadi lebih parah ditandai dengan jari-jari pasien yang menghitam. Terlihat seperti lebam.
Dengan kondisi tersebut, pasien terpaksa dibawa kembali ke RSU Permata Madina untuk pengecekan lebih lanjut. Dokter yang memeriksa kemudian memutuskan melakukan pembedahan pada tangan korban.
Alih-alih menyembuhkan, ternyata pembedahan itu tak berjalan lancar sehingga RSH harus dirujuk ke RSUP dr. M. Djamil Padang, Sumbar, pada Kamis, 23 Oktober 2025. Setelah observasi dan pemeriksaan lebih lanjut, dokter di rumah sakit tersebut memutuskan tangan pasien harus diamputasi.
Akhirnya, RSH harus kehilangan tangan kirinya mulai dari pergelangan sampai jari-jarinya. Tak hanya itu, infeksi serupa juga terjadi di tangan kanan. Sesuai amatan jurnalis media ini, pada tangan kanan korban di sekitar suntikan infus seperti terbakar dan lebam.
Sampai hari ini, Sabtu, 8 November 2025, RSH masih dirawat di RSUP dr. M. Djamil Padang. Dia dan keluarganya sudah berada di sana kurang lebih 15 hari.
dr. Evan yang dimintai keterangan terkait ada tidaknya obat atau zat kimia lain yang dimasukkan bersamaan dengan cairan infus tak memberikan jawaban. Dia juga memilih bungkam terkait ada tidaknya tanggung jawab RSU Permata Madina terhadap korban, baik itu berupa pendampingan atau lainnya. (Roy Dz)


