Nasional

Fahrizal Desak Pemkab Madina Ambil Peran Penuhi Bahan Dasar Menu MBG

Baswara Times, Panyabungan – H. Fahrizal Efendi Nasution, ketua Yayasan Sahabat Peduli Sejahtera (SPS), mendesak Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Pemkab Madina) mengambil peran strategis dalam memastikan terpenuhinya bahan dasar atau bahan pokok untuk menyukseskan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Keterlibatan atau peran pemerintah daerah, kata pemilik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berlokasi di Jl. ABRI Panyabungan, diperlukan karena saat ini beberapa komoditas yang dibutuhkan sudah mulai langka.

“Kendala pasokan mulai terasa signifikan, terutama saat memasuki masa libur panjang yang mengharuskan penyaluran paket bingkisan kepada penerima manfaat untuk beberapa hari sekaligus,” kata Fahrizal di SPPG miliknya pada Jumat, 26 Desember 2025.

Anggota DPRD Sumuatera Utara periode 2019-2024 ini mengatakan beberapa bahan yang sudah mulai sulit didapatkan adalah susu, buah segar, dan telur. Dia menilai kondisi ini menjadi tantangan berat bagi para pemilik dapur MBG.

Lebih lanjut, Fahrizal menuturkan susu menjadi komoditas yang paling sulit ditemukan di pasaran saat ini. Sebagai langkah darurat, pihaknya terpaksa melakukan substitusi berdasarkan rekomendasi ahli gizi.

“Susu sudah tidak dapat lagi di pasaran. Kebijakan kami, karena menurut ahli gizi bisa digantikan, maka kami menggunakan Yakult sebagai solusi alternatif agar kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi,” ujar sebut dia.

Fahrizal menegaskan kelangkaan bahan pokok untuk MBG bukan tak mungkin akan terus berlangsung jika Pemkab Madina tidak mengambil langkah strategis. Pasalnya SPPG terus bertambah, baik itu di Bumi Gordang Sambilan maupun kabupaten/kota lain yang sebelumnya memasok sayur, ayam, buah, dan ikan.

“SPPG terus bertambah sementara pasokan tetap. Sebelum ini juga sayur, ikan, ayam, dan telur misalnya, Madina itu masih memasok dari luar daerah, ini nanti berpotensi terjadinya kenaikan harga yang signifikan karena pemasok pastinya akan mengutamakan daerah mereka sendiri,” jelas Fahrizal.

Dia pun menilai Pemkab Madina harus mampu menggerakkan percepatan pertumbuhan produksi pertanian lokal untuk memenuhi permintaan SPPG. Terlebih dalam waktu dekat MBG juga akan menyasar ibu hamil dan menyusui.

“Pemerintah daerah harus menggerakkan percepatan pertumbuhan produksi, khususnya hortikultura hasil pertanian masyarakat. Kebutuhan dapur terus bertambah, maka produksi lokal harus dipacu sejalan dengan kebutuhan tersebut,” kata mantan pimpinan DPRD Madina ini.

Di sisi lain, Fahrizal melihat sektor UMKM memiliki peluang besar untuk masuk ke dalam ekosistem MBG. Dia pun mendorong pelaku usaha agar memproduksi kebutuhan seperti roti dan kue guna menggantikan produk-produk pabrikan, sesuai arahan BGN.

“UMKM semestinya bergerak. Kita bisa mengoptimalkan kearifan lokal yang secara alami tahan lama, seperti kue bika pisang. Jika porsinya dikoordinasikan dengan ahli gizi, ini bisa menjadi kemasan gizi yang luar biasa bagi penerima manfaat,” tambah pria bergelar Sutan Kumala Bongsu Lenggang Alam ini.

Menutup keterangannya, H. Fahrizal Effendi Nasution berharap sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha dapat segera terwujud. Dia optimistis jika rantai pasok ini dikelola dengan berbasis potensi lokal, program MBG tidak hanya akan menghapuskan angka stunting, tetapi juga menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah.

“Semua pihak harus tanggap dan bergerak cepat. Target kita bukan hanya makanan bergizi, tetapi juga bagaimana program ini benar-benar membantu pertumbuhan ekonomi di seluruh daerah,” pungkas dia. (Roy Dz)