Baswara Times, Madina – Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Atika Azmi Utammi Nasution kembali menunjukkan kedekatan dan perhatiannya terhadap generasi muda di kabupaten ini. Usai menyerahkan piagam penghargaan dan tali asih kepada keluarga veteran serta pahlawan perintis kemerdekaan di Terminal Pasar Kotanopan pada Jumat, 14 Agustus 2026, dia turut masuk barisan marching band. Lulusan UNSW Australia itu mengambil snare drum dan menabuhnya mengikuti musik yang dimainkan. Seketika, wakil bupati perempuan pertama di Bumi Gordang Sambilan itu pun menjadi perhatian masyarakat yang ikut menonton acara penyemarak HUT ke-81 Republik Indonesia itu. Atika bernostalgia. Kepala Dinas Perdagangan Parlin Lubis seolah tergerak untuk unjuk kebolehan. Dia pun memanggul dan memainkan bass drum. Atika memang memilik perhatian khusus terhadap anak-anak dan remaja. Dalam banyak kesempatan dia selalu menyempatkan menyampaikan permintaan kepada para orang tua agar lebih memperhatikan anak, utamanya dalam penggunaan gawai atau ponsel pintar yang berlebihan. Dalam satu waktu di Kecamatan Bukitmalintang, dia menuturkan penjualan narkoba dan maraknya pergaulan bebas di kalangan pelajar sering bermula lewat ponsel. Transaksi barang haram dan ajakan untuk hal-hal tertentu yang tidak baik tak jarang berlangsung lewat ponsel. “Sekarang mereka bisa berkumpul lima-enam orang, kumpul uang lalu beli narkoba. Pesannya lewat HP,” kata dia waktu itu. Salah satu momen fundamental bentuk perhatian Wabup Atika terhadap generasi muda, di luar rutinitas menyumbangkan gaji kepada anak yatim dan piatu, adalah merilis program Marmayam Keta Mar-HP Emma Jolo di Desa Muara Mais, Kecamatan Tambangan, pada medio Juni 2024. Program tersebut masih eksis sampai sekarang dan lebih dikenal dengan wisata permainan leluhur (Witapermainur). Permintaan kepada para orang tua untuk lebih perhatian terhadap anak, termasuk mengecek pergaulan di sekolah maupun lingkungan sehari-hari, adalah sesuatu yang tak pernah bosan dia ulang. Bahkan di acara yang tak bersentuhan dengan anak-anak sekalipun. “Kita dijajah oleh kemajuan teknologi yang sangat pesat seperti HP. Anak-anak harus didengarkan dan diarahkan oleh orang tua, jangan terlalu asik main HP hingga terkadang abai,” kata Atika beberapa hari lalu saat menyerahkan santunan kepada anak yatim di Masjid istiqomah, Panyabungan. Dunia digital, bagi dia bukan semata memberikan kemudahan dalam kehidupan sehari-hari, tapi juga menyimpan ancaman terhadap perkembangan anak-anak. “Penggunaan media sosial dan teknologi saat ini sering kali lebih banyak digunakan untuk hal yang kurang bermanfaat jika tidak diawasi,” pesan Wabup Atika. Dia menerangkan, dunia digital dalam genggaman anak, berupa penggunaan ponsel yang berlebihan adalah tantangan tersendiri bagi orang tua guna memastikan buah hatinya tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak baik. “Gawai saat ini kerap menjadi tantangan tersendiri dalam pengasuhan anak,” ujar wakil bupati dua periode itu. (Roy Dz) Navigasi pos Penyidikan Kasus Smart Village Belum Usai, Kejari Perpanjang Penahanan AML Siswa-siswi Madina yang Terpilih Sebagai Pengibar Bendera HUT ke-81 Republik Indonesia