Baswara Times, Madina – Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Atika Azmi Utammi Nasution berdiri dalam balutan Daro Baro, pakaian adat perempuan Aceh, di panggung kehormatan dengan beberapa kali melempar senyum kepada peserta karnaval kebudayaan yang berlangsung di Panyabungan pada Minggu, 16 Agustus 2026. Dara kelahiran 1993 itu memilih mengenakan Baro Daro dalam acara memeriahkan HUT ke-81 Republik Indonesia. Pilihan ini berbeda saat dia tampil elegan dalam balutan Bulang, pakaian adat perempuan Mandailing, dalam acara peringatan hari jadi Madina beberapa tahun silam. Atika yang dikenal menaruh perhatian lebih terhadap generasi muda dan kaum perempuan kembali mengirim pesan filosofis lewat pakaian bangsawan Aceh itu. Di masa lalu, perempuan terdidik di Tanah Rencong yang sebagain besar berasal dari kalangan bangsawan tidak hanya duduk diam melihat para penjajah menggerogoti kedaulatan bangsa mereka. Laksamana Keumalahayati, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, dan Pocut Baren Intan adalah segelintir perempuan Aceh yang turut berjuang di medan perang mengusir penjajah. Nama-nama tersebut bukanlah rakyat biasa, mereka merupakan putri para bangsawan dan ulama di negeri yang dikenal dengan Serambi Mekkah itu. Para perempuan tangguh yang masa remajanya dihabiskan untuk belajar strategi militer, politik, dan ilmu pengetahuan umum tak sudi berdiam diri, sementara rakyatnya harus berjuang melawan penjajah. Mereka turun ke medan perang dan bahkan menjadi pemimpin pergerakan dalam mengusir Belanda dan Portugis yang hendak menguasai Aceh. Daro Baro yang dikenakan Atika Azmi hari ini seolah menggambarkan semangatnya dalam mendukung perempuan. Dalam banyak kesempatan dia terus menyampaikan pesan-pesan betapa pentingnya keberadaan perempuan dalam tatanan sosial. Dia tak lelah menyemangati agar para perempuan berani mengambil kesempatan besar dalam hidup. Berani bermimpi dan berusaha mewujudkannya. Pakaian adat yang terlihat elegan itu seperti menunjukkan semangat Atika menolak penjajahan masa kini terhadap masa depan anak. Lulusan UNSW Australia ini mengulang-ulang pentingnya perhatian terhadap anak di tengah kemajuan teknologi dan dunia digital. Dia tak ingin generasi masa depan Bumi Gordang Sambilan tumbuh tanpa karakter dan tenggelam dalam gemerlap dunia maya. Penampilannya hari ini juga mengingatkan alasan di balik keputusannya mengambil langkah politik dengan meninggalkan masa muda yang nyaman: Atika tidak ingin hanya berdiam diri tanpa memberikan sumbangsih nyata bagi kemajuan tanah kelahirannya, Mandailing Natal. (Roy Dz) Navigasi pos Camat Tambangan Kukuhkan 41 Paskibra HUT ke-81 Republik Indonesia