Tulisan ini disadur dari tulisan Askolani Nasution di Facebook Askolani. Penulis adalah anak dari pahlawan perintis kemerdekaan, Ahmad Nasution, juga kemenakan dari M. Yunan Nasution. Baik ayahnya maupun Yunan berasal dari Desa Botung, Kecamatan Kotanopan.

Berdasarkan tulisan budayawan Mandailing itu, ayah dari Yunan Nasution dan Ahmad Nasution adalah kakak beradik. Maka dari itu, Askolani mengetahui banyak hal tentang uwaknya ini.

“Beliau Amantua kami. Ayahnya dan ompung kami kakak beradik. Karena itu banyak kisah-kisah beliau yang saya dengar dari orang tua. Namanya ada di Tugu Perintis Kemerdekaan Kotanopan urutan 14 kalau tidak salah,” sebut Askolani mengawali tulisannya.

Yunan Nasution acapkali memakai jas dengan peci yang disengaja miring. Penampilan ini berbeda jauh dari sosok yang dikenal banyak orang, jurnalis zaman Hindia Belanda yang tulisannya tajam.

Yunan Nasution lahir di Desa Botung, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumut, pada 22 Nopember 1913. Wafat di Jakarta pada 29 November 1996. Lulus perguruan Sumatera Thawalib, Bukittinggi. Sekolah terbaik di Sumatera zaman kolonial.

Kariernya di dunia jurnalis tak main-main. Yunan bergabung dengan Buya Hamka di majalah Pedoman Rakyat. Dia terpilih sebagai redaktur. Lalu pada 1936, pahlawan perintis kemerdekaan ini memimpin majalan Panji Islam. Tulisannya yang tajam membuat dia dipandang setara dengan Adam Malik dan Parada Harahap.

Setelah Indonesia merdeka, Yunan melanjutkan perjuangannya untuk Indonesia yang lebih maju lewat partai politik, Masyumi. Pada awal berdirinya partai tersebut, dia didapuk sebagai Sekretaris Jenderal mendampingi Mohammad Natsir sebagai ketua umum.

“Di masa awal berdirinya Partai Masyumi, Yunan Nasution terpilih menjadi Sekretaris Jenderal tahun 1956, ketua umumnya Mohammad Natsir, seorang yang dianggap politisi Islam terpenting sejak masa kolinial hingga masa Orde Lama. Bersama Prawoto Mangkusasmito, Muhamad Roem, Muchtar Lubis, dan lain-lain, Yunan Nasution dipenjarakan Soekarno karena perbedaan konsep politik. Bersama mereka juga beliau bergabung dengan PRRI,” papar Askolani.

Ketokohan dan karakter pejuang Yunan sudah terlihat sejak muda. Berawal dari masuk gerakan kepanduan SIAP (Sarekat Islam Afdeling Pandu) di Bukittinggi, dia kemudian terpilih sebagai Ketua Pemuda Muslimin Indonesia Bukittingi pada 1932. Lalu, mendirikan koran Biro Himalaya di kota yang sama.

Tahun 1933 menjadi tahun yang cukup berat. Yunan dua kali masuk penjara. Selepas keluar dia pun tak diperbolehkan tinggal di Sumatera Barat. Kondisi tersebut tak mampu membendung perjuangannya untuk Indonesia. Yunan memilih pindak ke Medan, Sumatera Utara.

Di Tanah Deli, Yunan bergabung dengan A. Wahid Erdan dan H. Majid Abdullah untuk mendirikan Majalah Soeloeh Islam. Karier jurnalisnya kian moncer setelah bertemu dengan Buya Hamka guna memimpin Pedoman Masyarakat selama tujuh tahun.

Pada masa penjajahan jepang, 1942-1945, Yunan bergabung dalam pergerakan Muhammdiyah. Bermula dari ketua Muhammadiyah Medan, lalu ditetapkan sebagai sebagi Konsul Muhammadiyah Sumatera Timur. Meski demikian, dia tetap aktif di dunia jurnalistik dengan menerbitkan Majalah Semangat Islam di Medan bersama Buya Hamka, tahun 1943.

Beberapa waktu kemudian, Yunan menggandeng A. Wahab Siregar, M. Saleh Umar dan Udin Sr. mendirikan Harian Mimbar Umum di Medan.

Tahun 1945 terpilih sebagai Ketua Masyumi Sumatera Timur. Pada awal revolusi, dia terpilih sebagai anggota DPR Sumatera Timur, kemudian Sumatera Utara, Anggota Dewan Pemerintahan pada Keresidenan Sumatera Timur dan Sumatera Utara, dan menjadi anggota KNIP mewakili Sumatera Utara.

Pada 1948, Yunan bersama pahlawan perintis kemerdekaan lainnya, H. Mahals., mendirikan harian Islam Berjuang. Nama H. Mahals tertera di urutan pertama pada Tugu Pahlawan Perintis Kemerdekaan di Kotanopan. Nama Yunan ada di posisi 14, sementara Ahmad Nasution di urutan 16.

Setahun kemudian, Yunan dipilih menjadi anggota Perwakilan RIS, mewakili daerah Republik dari Sumatera. Tahun 1950, dia menjadi anggota DPR Kesatuan dan pindah ke Jakarta untuk memimpin Masyumi Jakarta Raya.

Tahun 1950, bersama Alm. Z.A. Ahmad Suardi Tasrif mendirikan Harian Abadi, membawakan suara perjuangan Partai Masyumi. Tahun 1956 menjadi Anggota DPR mewakili Daerah Pemilihan Jakarta Raya. Tahun 1956 dan 1959 terpilih menjadi Sekjen Masyumi sampai Masyumi dibubarkan tahun 1960. Tahun 1960 Harian Abadi dilarang terbit. Media ini kembali terbit pada tahun 1970.

Pada rentang waktu tersebut, Yunan pernah ditahan oleh rezim Soekarno. Tepatnya empat tahun empat bulan sejak Januari 1962. Dia ditahan bersama A Prawoto, M. Roem disusul Isa Anshari, Sumarsono, Muttaqin, Sutan Syahrir, Anak Agung Gde Agung, Mokhtar Lubis, dan Subadio Sostrosatomo.

Pada saat yang sama ditahan pula M. Natsir, Syafruddin Prawiranegara, Burhanudin Harahap. Ketiganya pernah jadi perdana menteri.

Setelah keluar dari penjara, Yunan memilih lebih aktif dalam kegiatan dakwah. Dia dinobatkan menjadi Ketua Dewan Dakwah Jakarta Raya merangkap sebagai Wakil Ketua Dewan Dawah Pusat.

Yunan Nasution juga pernah terpilih menjadi Ketua umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Jakarta Raya. Di samping itu dia juga menjabat anggota Pimpinan Pusat Dewan Dawah Indonesia. (*)