Dalam persepsi publik, kata “Orang Dalam” selalu berkonotasi negatif. Ungkapan itu sering disematkan kepada orang-orang yang berhasil mencapai sesuatu, baik itu berupa pekerjaan, prestasi, maupun kemudahan birokrasi, disebabkan keterlibatan pihak-pihak yang punya wewenang karena adanya keterikatan hubungan keluarga maupun relasi lainnya.

Cerita yang demikian kerap didengar dalam kehidupan sehari-hari. Namun, memiliki relasi dengan orang-orang yang menentukan kebijakan di satu lembaga bukanlah satu bentuk kecurangan. Nyatanya, manusia merupakan mahluk sosial yang membutuhkan keberadaan manusia lainnya. Maka tak jarang kita mendapatkan informasi lowongan pekerjaan dari hubungan antar-manusia, baik itu pertemanan, keluarga, maupun kolega.

Dalam kehidupan sering pula terdengar kisah yang menyebutkan seseorang mendapatkan pekerjaan dari orang lain karena didorang rasa kepercayaan. Tak perlu mengikuti beragam agenda seleksi. Murni sebuah kepercayaan. Itu semua bisa terjadi karena adanya relasi yang baik.

Dari sudut pandang penulis, permasalahan utamanya bukan pada keberadaan orang dalam. Melainkan, pada kemampuan memaksimalkan relasi itu. Tentu saja dilakukan dengan cara-cara yang baik. Misalnya, seseorang mendapatkan informasi lowongan kerja dari seorang kenalan di sebuah perusahaan. Lalu, dia mendaftar dan mengikuti prosedur yang ada sehingga terpilih untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Seharusnya, itu bukan sesuatu yang mesti dipermasalahkan meskipun informasi awalnya dia dapatkan dari orang dalam.

Ceritanya tentu berbeda, jika dia diprioritaskan untuk mendapatkan pekerjaan itu hanya karena adanya relasi dengan penentu kebijakan. Syarat-syarat dan kompetensi diabaikan atau dengan sengaja membuang pendaftar lain yang nyatanya lebih mampu dari yang bersangkutan. Dalam hemat penulis, relasi bukan berarti nepotisme. Namun, ia tetap berpotensi menjadi sebuah kecurangan ketika keadilan diabaikan demi kedekatan semata.

Menariknya, Islam mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik antar-manusia. Dalam satu hadis sahih yang diriwayatkan Anas bin Malik, Sahih Al-Bukhari Nomor 5.986 dan Sahih Muslim Nomor 2.557, disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezeki dan dipanjangkan jejak kehidupannya, maka hendaklah ia menyambung tali kekerabatan”. Redaksi yang sama juga tercantum dalam satu hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, Sahih Al Bukhari Nomor 5.985 (dorar.net).

Dalam pandangan penulis, hadis tersebut membuka ruang untuk melihat relasi dalam sudut pandang positif. Silah al-rahim bukan sekadar menjaga hubungan keluarga, tapi juga menunjukkan kehidupan manusia tak lepas dari hubungan baik dengan manusia lainnya. Dari hubungan yang bai itu, Allah Swt. membuka pintu rezeki, menghadirkan pertolongan, dan meninggalkan jejak kebaikan yang panjang (dorar.net).

Meski demikian, perlu digarisbawahi bahwa hadis tersebut tidak berarti Islam mengajarkan mencari orang dalam agar urusan-urusan yang dihadapi berjalan lancar. Justru, hadis itu mengingatkan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa keberadaan orang lain. Ada keluarga, sahabat, tetangga, kolega, guru, dan orang lain yang memberikan bantuan entah itu mengajarkan hal baru entah memberikan infromasi yang membuka jalan rezeki.

Maka, dapat penulis simpulkan bahwa orang dalam tidak selalu berkonotasi negatif. Ada relasi yang menjadi jalan informasi, peluang rekomendasi, pertolongan, dan membuka kesempatan. Pada titik ini, permaslahan yang sering timbul dapat dipastikan tidak berada pada relasinya, tetapi lebih kepada cara pemanfaatannya yang sering dijadikan dasar untuk melanggar aturan.

Dengan penjabaran di atas, penulis berharap stigma yang muncul dari frasa orang dalam perlahan-lahan dapat dihapuskan. Setiap orang berhak membangun relasi dengan siapa saja yang mungkin pada suatu saat memberikan kemudahan dalam banyak urusan atau bahkan menjadi jalan rezeki. Namun, hubungan baik itu tidak boleh menjadi kelompok eksekutif yang saling menguntungkan dengan mengabaikan kejujuran. Tidak boleh silaturahmi dijadikan landasan untuk membangun ketidakadilan.

Penulis: Nur Hamidah Pulungan, M.Th
Dosen Ilmu Hadis pada STAIN Mandailing Natal