Baswara Times, Deli Serdang – Ada yang tak biasa di panggung utama Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-40 Provinsi Sumatera Utara pada malam pembukaan acara bertema Satu Irama Tilawah, Satu Tekad dalam Kolaborasi Sumut Berkah di Lapangan Astaka Pancing, Deli Serdang, pada Senin malam, 15 Juni 2026.

Bisanya, saat pembawa acara memanggil kepala daerah untuk menyampaikan kata sambutan yang maju kalau bukan gubernur/bupati pasti wakil gubernur/wakil bupati. Tapi pemandangan malam itu berbeda, Muhammad Bobby Afif Nasution dan Surya berjalan bersama menuju panggung utama.

Keanehan tak hanya sampai di situ, Bobby dengan telaten mengatur mikrofon yang tersedia agar sesuai dengan posisi berdiri wakil gubernur. Surya, politisi asal Asahan, diberikan kesempatan menyampaikan pidato sambutan. Sementara, Gubsu Bobby berdiri di sampingnya. Sesuatu yang langka dalam dunia pemerintahan, tapi menunjukkan pentingnya kesepahaman dan kolaborasi kepala daerah.

Usai Surya menyampaikan pidato sambutan, dia menyerahkan mikrofon kepada gubernur untuk berbicara sepatah dua patah kata. Berdirinya mereka berdua di panggung, kata Bobby, sengaja ingin menunjukkan bahwa agenda besar ini terlaksana bukan hanya karena kerja keras panitia, tapi juga karena kesepahaman gubernur dan wakil gubernur. Menunjukkan bahwa keduanya solid dan satu visi memajukan Sumut.

“Baik, terima kasih Pak Wakil Gubernur. Kami berdua di sini sama-sama menyampaikan kalau ini adalah MTQ ke-40 Sumatera Utara. Bagi kami berdua, saya dan Pak Surya, ini adalah MTQ di tingkat Provinsi Sumatera Utara yang pertama bagi kami,” kata Bobby memulai pidatonya.

Dia juga menyampaikan pesan pentingnya kolaborasi antara pemerintah kabupaten/kota dengan pemerintah provinsi. Bobby mengakui bahwa pemerintahannya memiliki kekurangan, tapi ketidaksempurnaan itu bukan untuk diumbar melainkan harus bisa ditutupi oleh pemerintah daerah tingkat dua.

“Tapi, bagaimana kita bisa saling menutupi kekurangan, kami di provinsi pasti ada kekurangan, Bapak-Ibu di kabupaten/kota pasti ada kekurangan, mari kita tutupi sesama kekurangan, bukan saling membuka kekurangan, sehingga benar-benar Provinsi Sumatera Utara menjadi provinsi yang berkah, dimulai dari kabupaten/kota yang berkah tentunya,” kata Bobby.

Pesan kolaborasi itu pun dikuatkan oleh Wakil Menteri Agama Dr. K.H. Romo R. Muhammad Syafi’i. Dia memulai pidato dengan mengutip sambutan Menteri Penerangan era 1970 Laksda Udara (TNI-AU) Boediardjo.

“Dalam Repelita kita bukanlah sekadar pembangunan lahiriah, tetapi juga rohaniah atau spiritual. Dan untuk kedua-duanya itu harus kita buat neraca yang seimbang. Sama dengan keseimbangan kejadian kita manusia yang terdiri dari badan yang kasar dan roh yang halus,” kata Romo Syafi’i.

Dia mengungkapkan bahwa MTQ di Indonesia bukan sekadar perlombaan, tapi memiliki peran penting dalam sejarah perjalanan bangsa ini.

Romo Syafi’i menceritakan, MTQ pertama digelar tahun 1968. Saat itu, persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia sedang diuji karena baru melewati masa-masa penuh gejolak tahun 1965. Pun, kondisi global juga sedang tidak baik-baik saja, termasuk Perang Vietnam yang berkecamuk sebagai simbol pertarungan ideologi internasional.

“Persatuan bangsa pada saat itu sedang teruji, stabilitas nasional sedang dibangun kembali, dan kepercayaan masyarakat sedang dipulihkan. Dan bagaimana hadir suasana kebatinan yang mampu merekonstruksi kekuatan bangsa,” kata dia.

Di tengah situasi itu, kata Romo Syafi’i, para elite bangsa melahirkan ide menggelar MTQ nasional. Maka, tiga tahun pertama pelaksanaan acara ini memiliki peran penting dalam menyatukan kembali Indonesia. (Roy Dz)