Pimpinan rombongan jemaah umrah yang sempat telantar di KNO, Hanapi Lubis.

Baswara Times, Madina – Pimpinan rombongan Hanapi Lubis mengungkap kronologi “hilangnya” Alwi Batubara, pimpinan travel agen Sultan Andalus Haramain, usai tiba di Mapolres Madina, Panyabungan Utara, pada Jumat, 21 Aguetus 2026.

Ketidakmunculan Alwi jelang keberangkatan pesawat Alwi berujung telantarnya 30-an jemaah umrah dan batal berangkat ke Tanah Suci. Mereka pun sempat tekatung-katung tanpa kepastian selama tiga hari.

Hanapi menjelaskan, kebatalan jemaah karena ketiadaan tiket pesawat. Padahal, seluruh akomodasi di Arab Saudi sudah dilunasi pihak travel. Keadaan tersebut, menurut dia, sudah menjadi tanda-tanda awal ketidakberesan pemberangkatan rombongan.

Dia sempat meminta Alwi Batubara untuk menemui jemaah dan menjelaskan kendala yang terjadi agar bisa dicarikan solusi bersama. Namun, yang bersangkutan justru terkesan menghindar.

“Turun dia dari lantai dua pakai kaos oblong putih. Turun bawa kertas satu lembar, saya pikir sudah mau ketemu, langsung dia lewat resepsionis. Rupanya enggak ketemu sama kami, dia sudah pergi,” kata Hanapi.

Dia pun menyayangkan situasi tersebut karena persiapan di Tanah Suci sudah matang. Hanapi bahkan sudah memastikan bahwa visa, hotel, dan biaya penanganan (handling) di Arab Saudi telah dibayarkan lunas kepada pihak penyedia di sana. Namun, tanpa tiket pesawat yang menjadi tanggung jawab Alwi, seluruh persiapan tersebut menjadi sia-sia.

Kepanikan memuncak ketika jemaah tiba di Bandara Kualanamu. Alwi beralasan sedang mengurus keberangkatan di bandara, tapi wujudnya tidak pernah muncul. Kecurigaan Hanapi semakin kuat saat dia mendapat informasi dari pimpinan rombongan lain, Ustaz Iqbal dari Grand Safana Nauli (GSN), yang ternyata juga mengalami nasib serupa karena memesan tiket melalui orang yang sama.

Komunikasi dengan Alwi akhirnya terputus total. Pesan yang dikirimkan hanya berstatus terkirim tanpa balasan, hingga akhirnya sang agen tidak bisa lagi dihubungi oleh siapapun. Puncaknya, pada pukul 14.45 WIB, pesawat yang seharusnya ditumpangi oleh para jamaah lepas landas tanpa mereka.

“Di ujung cerita, pada pukul 14.45 pesawat sudah terbang. Saya sudah pastikan jemaah tidak bisa terbang lagi, karena tidak punya tiket utuh,” tegas Hanapi.

Melihat kondisi psikologis jemaah yang mulai terguncang, menangis, dan kebingungan, Hanapi langsung mengambil inisiatif darurat. Dia menghubungi istri Alwi, Siti Aminah Khan, untuk meminta pertanggungjawaban sementara agar jemaah tidak telantar di bandara.

Dari komunikasi tersebut, Hanapi menerima kiriman dana darurat sebesar tujuh juta rupiah yang langsung digunakannya untuk menyewa lima belas kamar hotel dan menyediakan makan siang bagi jamaah.

Jemaah kemudian dipindahkan ke Asrama Haji Embarkasi Medan oleh pihak Kementerian Haji dan Umrah. Saat itu, Hanapi mengaku masih berupaya menunggu iktikad baik Alwi untuk membelikan tiket pengganti agar biaya hotel di Arab Saudi tidak hangus.

Dia juga memikirkan risiko penelantaran lanjutan jika mereka tetap berangkat tanpa penanggung jawab yang jelas di sana. “Akhirnya kami tunggulah sampai kemarin sore jam 5, tidak ada iktikad baik, baik dari keluarga Alwi, istrinya, atau keluarga utusannya, tidak ada iktikad baik. Akhirnya, sorenya kita sepakat bersama-sama untuk melakukan pelaporan terhadap Saudara Alwi. Kemudian sepakat untuk kembali ke Mandailing,” pungkas Hanapi. (Roy Dz)