Disdikbud Madina gelar lomba marturi dan seni tari tingkat pelajar.

Baswara Times, Madina – Ratusan siswa dari tingkat SD sampai SMA di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) unjuk kemampuan marturi dalam pagelaran budaya untuk menyemarakkan HUT ke-81 Republik Indonesia yang dipusatkan di Taman Kota Panyabungan pada Rabu, 12 Agustus 2026.

“Total peserta yang mengikuti dua perlombaan marturi dan seni tari mencapai 576 orang. Untuk lomba marturi terdapat sekitar 288 peserta yang terbagi dalam 16 grup tingkat SD, 12 grup SMP, dan sembilan grup SMA. Sementara untuk lomba seni tari juga diikuti sekitar 288 peserta, dengan rincian 20 grup tingkat SD dan 18 grup tingkat SMP,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Muhammad Faisal Situmorang.

Dia menjelaskan, kedua lomba tersebut merupakan program Bidang Kebudayaan yang disiapkan dengan tujuan bertujuan melestarikan nilai-nilai budaya, seni, dan budi pekerti masyarakat Madina.

Faisal menjelaskan, lomba marturi dan seni tari tingkat pelajar itu diselenggarakan bukan hanya bertujuan mencari juara, tetapi juga menjadi sarana untuk mengembangkan bakat dan kreativitas pelajar di bidang seni sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya daerah.

“Kita ingin anak-anak kita berani tampil, memiliki kreativitas dan membentuk karakter. Mereka juga diharapkan semakin mencintai budaya daerah serta menghargai keberagaman seni yang ada di Madina,” pungkas Faisal.

Sementara itu, Pj. Sekda Afrizal mengatakan baik marturi maupun seni tari tradisional merupakan warisan budaya Mandailing yang sarat dengan nilai sosial, pendidikan, kebersamaan, dan identitas masyarakat.

“Perlombaan seperti marturi dan seni tari bukan sekadar ajang untuk menunjukkan kemampuan maupun meraih juara. Tapi, juga bagian dari warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, pendidikan, kebersamaan dan identitas masyarakat,” kata dia.

Afrizal menekankan generasi muda untuk turut serta mengenali, mempelajari, menjaga, dan mengembangkan budaya. Menurut dia, lomba marturi dan seni tari ini merupakan salah satu wadah dalam mencapai hal tersebut.

“Generasi muda harus menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan budaya daerah. Dengan mempelajari dan mengembangkan budaya, kita turut memastikan warisan ini tidak hilang dan tetap dikenal oleh generasi berikutnya,” pesan dia.

Untuk diketahui marturi adalah bercerita dalam bahasa Mandailing. Umumnya cerita yang disampaikan merupakan cerita rakyat yang diwariskan secara lisan. Melalui aktivitas ini diwariskan pula pola asuh dan pendidikan. Marturi punah setelah listrik masuk ke Mandailing. (Roy Dz)