Petani Kopi Mandailing di Kecamatan Ulupungkut mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas

Baswara Times, Madina – Koperasi Kopi Mandailing Jaya (Komanja) dan Sumatera Rainforest Institute (SRI) mendorong peningkatan kapasitas petani Kopi Mandailing melalui pelatihan langsung selama dua hari dengan fokus pada rendemen kopi, proses pascapanen, dan teknik budidaya di Kecamatan Ulupungkut, Kabupaten Mandailing Natal (Madina).

Hari pertama atau Jumat, 30 Oktober 2026, pelatihan berlangsung di Rumah Produksi Komanja, Desa Habincaran, dengan fokus materi adalah proses pascapanen dan rendemen kopi. Sementara pada hari kedua atau Sabtu, 31 Oktober 2026, fokus pada teknik budidaya di arena perkebunan kopi di Desa Hutapadang.

“Untuk Jumat kemarin fokusnya proses pasca panen dan rendemen kopi petani. Kami meminta peserta membawa masing-masing 10 kilogram buah merah untuk diuji langsung, hasilnya akan terlihat satu pekan ke depan,” kata Ketua Komanja Syafruddin Lubis pada Sabtu.

Dia menjelaskan, peserta kegiatan ini berjumlah 75 orang yang merupakan petani kopi dari seluruh desa yang ada di kecamatan tersebut.

Syafruddin menerangkan, pelatihan hari kedua berlangsung dinamis karena setiap petani antusias menyampaikan pertanyaan dan berbagi pengalaman. “Karena praktik langsung dan pesertanya petani kopi, jadi kendala yang mereka hadapi selama ini bisa mereka sampaikan,” sebut dia.

Syafruddin menambahkan, beberapa kendala justru bisa dijawab sendiri oleh peserta lain. “Jika ada petani yang pernah mengalami kendala serupa dan telah menemukan solusinya, petani tersebut membagikan cara penanganan yang pernah dilakukannya,” jelas di.

Ketua koperasi mengungkapkan, agenda dua hari ini merupakan rangkaian kegiatan sekolah lapang pertanian sebagai upaya peningkatan kapasitas petani dalam menghasilkan buah kopi yang berkualitas.

Di sisi lain, Syafruddin menerima masukan dari peserta agar kegiatan seperti ini berkelanjutan sehingga ada ruang diskusi dan silaturahmi antar petani kopi.

“Kami akan berusaha agar ke depan terbentuk forum petani sebagai wadah berbagi pengalaman. Selain itu, pelatihan ini juga akan dilaksanakan hingga lima bulan ke depan dengan materi yang tentunya berbeda-beda,” pungkas Syafruddin.

Direktur SRI Dony Saputra mengatakan kegiatan pelatihan ini merupakan bagian dari program peningkatan kapasitas kelembagaan koperasi petani agar menjadi unit bisnis yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan.

“Program ini dijalankan oleh SRI sebagai anggota dari konsorsium Caritas PSE dengan dukungan pendanaan hibah Siklus X TFCA Sumatera,” sebut Dony. (Roy Dz)