Oplus_131072
Madina

Natalius Pigai Sebut Madina Pusat Patriotisme dan Nasionalisme

Baswara Times, Panyabungan – Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menyebut Kabupaten Mandailing Natal (Madina) sebagai pusat patriotisme dan nasionalisme. Hal itu ditandai dengan banyaknya tokoh-tokoh nasional yang lahir dari Bumi Gordang Sambilan.

“Tokoh-tokoh besar dilahirkan dari sini. Merekalah yang merancang bagaimana membangun persatuan, keutuhan bangsa, persatuan antar suku, persatuan antar etnik, penghormatan, Bhinneka Tunggal Ika,” kata dia dalam acara makan malam bersama di Sopo Godang, pendopo Rumah Dinas Bupati Madina, Desa Parbangunan, Panyabungan, pada Sabtu, 18 Oktober 2025.

Pigai menilai akronim Madina dan sebutan Serambi Mekkah Sumatera Utara untuk kabupaten ini selaras dengan prinsip-prinsip hidup masyarakatnya. Dia pun mengibaratkan kedua istilah itu dengan dua kota utama umat Islam, yakni Mekkah dan Madinah.

“​Tapi jangan berhenti di Madinah, kadang-kadang mekkahnya dilupain. Mekkah itu adalah tiang penyangga bagi orang Madinah. Agama itu adalah tiang pilar utama kehidupan bagi orang Madinah. Karena itu agama juga tetap dipelihara, dijaga, tapi persatuan dan kesatuan juga tetap dijaga,” pesan dia.

Lebih lanjut, Natalius Pigai mengaku kagum dengan pemerintah daerah dan masyarakat Madina yang tetap menjaga adatnya meski diapit oleh dua budaya lain, yakni Toba dan Minang.

“Kami juga sebagai pemimpin senang kalau pemimpin di daerah mempertahankan identitasnya, budayanya, nilai filosofi yang berkembang dan hidup tumbuh, agamanya, itu bagi kami adalah penghormatan. Bapak yang menjaga, Bapak yang memelihara, Bapak pula yang memproteksi dari yang mengancam kearifan-kearifan masyarakat di Madina,” sebut mantan aktivis HAM itu.

Menteri Natalius menyebutkan suku Mandailing mengenal Dalihan na Tolu sebagai pilar kehidupan bermasyarakat. Maka dari itu, sudah selayaknya juga diimplementasikan dalam pemerintahan dengan merangkul TNI dan Polri. “Kemudian kalau pemimpinnya juga dibantu oleh TNI dan Polri, kemudian juga melakukan, merajut persatuan dan permusyawaratan, maka sudah pasti Mandailing Natal menjadi sumber dari perdamaian dan keadilan,” lanjut dia.

Natalius Pigai menerangkan prinsip dasar HAM itu sebenarnya sederhana, yakni bicara tentang hati dan jiwa yang ada di dalamnya. “Yang istilah di sini adalah paias rohamu. Ham itu bicara tentang paias rohamu, bersihkan hatinya, sucikan hatinya,” terang dia.

Selain itu, penguatan HAM juga selaras dengan empat poin lain yang tertuang dalam Poda na Lima. “Paias parabitonmu. Ya, rohani, fisik. Kemudian yang melindungi kita, tidak hanya bicara pakaian, jangan salah, yang menutupi kita. Ya, tampilan,” lanjut dia.

Berikutnya, paias pamatangmu dalam artian menjauhkan diri dari hal-hal yang membuat hak asasi orang lain tergores. “​Lalu, hak asasi manusia juga bicara tentang tempat, milik kita, hidup, rumah tempat tinggal kita. Rumah besar bagi Madina adalah Kabupaten Mandailing Natal,” tutup Natalius. (Roy Dz)