Oplus_131072
Madina

Tangan RSH Diamputasi, Direktur RSU Permata Madina Bungkam

Baswara Times, Panyabungan – Tangan RSH akhirnya harus diamputasi agar infeksi yang dideritanya usai menjalani perawatan di RSU Permata Madina Panyabungan tidak menjalar lebih jauh. Remaja putri itu pun kini harus kehilangan pergelangan tangan kiri hingga jari-jarinya.

Operasi pemotongan atau amputasi itu berlangsung di RSUP dr. M. Djamil Padang, Sumatera Barat, pada pekan lalu. Dari pantauan jurnalis Baswara Times di rumah sakit tersebut, dokter terpaksa mengambil langkah amputasi sebagai antisipasi kondisi yang lebih buruk.

RSH awalnya menjalani perawatan di RSU Permata Madina, Kelurahan Kayujati, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), pada medio pertengahan Oktober dengan diagnosa asam lambung. Dia pun terpaksa harus diinfus.

Memasuki hari kedua perawatan, tangan kiri RSH bengkak, tepatnya di sekitar penyuntikan infus. Pembengkakan itu kian besar sehingga infus dipindahkan ke tangan kanan. Setelah melewati perawatan kurang lebih tiga hari, pasien meminta pulang.

Saat melewati masa pemulihan di rumah, ternyata pembengkakan di tangan kirinya kian parah. Melihat keadaan itu, pihak keluarga memutuskan untuk kembali membawa RSH ke RSU Permata Madina guna pemeriksaan lebih lanjut. Dokter yang memeriksa kemudian menyarankan dilakukan pembedahan sebagai tindakan pengobatan.

Pada Kamis, 22 Oktober 2025, pembedahan pun dilakukan. Namun, hasilnya tidak sesuai harapan sehingga dokter menyarankan pasien dirujuk. Keluarga pun memilih membawa RSH ke RSUP dr. M. Djamil Padang. Malam harinya pasien dibawa ke Sumatera Barat.

Usai melewati observasi dan pemeriksaan lebih lanjut, dokter di RSUP dr. M. Djamil Padang menyampaikan bahwa tangan RSH harus diamputasi karena infeksi yang dialaminya sudah dalam kategori parah. Ini pun merupakan upaya terakhir mencegah infeksi menjalar.

Ternyata, infeksi tidak hanya terjadi di tangan kiri pasien. Tangan kanan pun demikian. Letaknya di sekitar bekas suntikan infus. Beruntung, tangan kanan RSH masih bisa diselamatkan tanpa harus melalui operasi atau amputasi.

Direktur RSU Permata Madina dr. Evandoni yang dimintai keterangan terkait RSH yang harus melewati pengamputasian pada tangan kiri usai dirawat di rumah sakit yang dia pimpin itu memilih bungkam. Surat konfirmasi yang dikirim pada Jumat, 31 Oktober 2025, sampai berita ini diterbitkan tak mendapat jawaban.

Sebelumnya, Baswara Times melayangkan surat konfirmasi pertama pada 28 Oktober 2025, saat itu dr. Evandoni mengakui bahwa RSH benar pernah dirawat di rumah sakit tersebut.

Namun, dr. Evan tak menjawab empat poin pertanyaan lain yang diajukan, termasuk kebenaran adanya pembengkakan pada tangan kiri pasien dan tindakan pembedahan yang dilakukan di RSU Permata Madina.

“Poin 2,3,4, dan 5 tidak dapat kami sampaikan karena ini merupakan Rekam Medis pasien,” demikian tertulis pada poin kedua dalam surat tersebut.

Meski demikian, dr. Evan mengungkapkan pihaknya sedang melakukan kajian terhadap kasus tersebut yang dilaksanakan oleh Komite Medis RSU Permata Madina. (Roy Dz)