Kali Pertama Konferensi PWI Madina Diikuti Dua Calon
Baswara Times, Panyabungan – Konferensi V Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menjadi yang pertama diikuti oleh dua calon, yakni Ali Anhar dan Zamharir Rangkuti. Sebelumnya, pemilihan ketua selalu ditentukan lewat aklamasi.
Konferensi yang berlangsung di Aula Hotel Rindang, Kelurahan Dalan Lidang, Panyabungan, pada Selasa, 23 Desember 2025, dibuka oleh Bupati Madina H. Saipullah Nasution. Acara ini dihadiri langsung Ketua PWI Sumut Farianda Putra Sinik.
Bupati mengatakan pemilihan ketua PWI Madina harus mengedepankan musyawarah, dalam artian, kesepakatan yang tercapai harus dihormati. “Kita juga punya adat Dalian Na Tolu yang segala sesuatunya itu harus musyawarah mufakat,” kata dia.
Saipullah mengungkapkan kesuksesannya menapaki karier sewaktu di Direktorat Jenderal Bea Cukai tak lepas dari dukungan media. “Karier saya itu sampai ke puncak, teman saya adalah wartawan karena saya tahu bahwa fungsi strategis itu di tangan-tangan teman wartawan,” lanjut dia.
Bupati pun mengapresiasi panitia yang telah menyelenggarakan acara ini. Dia mengingatkan agar PWI nantinya tetap membangun komunikasi dan hubungan baik dengan lembaga lain, termasuk pemerintah daerah.
“Kami ini harus dikontrol. Kalau enggak dikontrol, kami tidak tahu apakah kebijakan yang kami buat itu telah sesuai dengan aturan atau sudah sesuai dengan kehendak masyarakat,” sebut Saipullah.
Dia juga berpesan kepada insan pers di Madina agar bekerja dengan tetap bersandar pada UU Pokok Pers. “Di situ esensinya ada kebebasan menyampaikan atau kebebasan pers. Silakan rekan-rekan semua melakukan produk jurnalistik sesuai dengan undang-undang tersebut,” tutup bupati.
Farianda Sinik mengingatkan agar dinamika yang terjadi selama tahapan konferensi dipandang sebagai hal biasa. “Saya tidak mau setelah konferensi ini terjadi keretakan, terjadi tidak harmonis, disharmonis, saya tidak suka,” kata dia.
Farianda juga berpesan agar PWI Madina terus membangun hubungan baik denhan lembaga lain. Namun, tetap teguh pada prinsip-prinsip pers sebagai kontrol sosial. “Kita tetap fungsi kontrol, tetap kritis,” sebut dia.
Sebelumnya, Ketua Panitia Edy Junaedi menilai konferensi tahun ini sebagai catatan sejarah karena calon ketua lebih dari satu. “Konferensi yang bersejarah, dalam arti selama empat konferensi selalu ditentukan melalui aklamasi. Baru konferensi yang kelima ini ada dua calon. Tentu harus juga ada pemimpin yang kita pilih,” kata dia.
Edy meyakini adanya dua calon tidak akan menimbulkan perpecahan di tubuh PWI Madina. Dia percaya para pengurus dan anggota organisasi tersebut sudah cukup dewasa memandang perbedaan pilihan.
Muhammad Ridwan Lubis, ketua PWI dua periode sebelumnya, memanfaatkan acara ini untuk menyampaikan permohonan maaf dan pamit dari kepengurusan karena masa jabatan usai. Meski demikian, dia mengaku berkomitmen mendukung kemajuan organisasi di masa depan. (Roy Dz)


